Sunday, 20 November 2016

mengapa ulat menjadi kupu kupu

Dahulu kala di sebuah taman yang kecil, hiduplah sekumpulan ulat dan juga beberapa Bunga Sepatu dan Bunga Mawar. Pada awalnya mereka semua  bersahabat. Sampai suatu hari, sekuntum bunga mawar bernama Okit dengan sombongnya berkata.

“Hei para ulat! Jangan terus memakani daun kami!”

“Ya benar! Lihat…daun-daun kami jadi rusak, pergi kalian dari taman ini!” sahut bunga mawar lainnya.

Ulat-ulat merasa sangat sedih. Mereka memang memakani daun-daun bunga di taman itu. Tetapi jika mereka tidak makan, tentu mereka akan mati kelaparan. Akhirnya dengan kerendahan hati mereka berniat pergi dari taman itu. Namun sekuntum bunga sepatu mencegahnya.

“Hei, kalian jangan pergi,” kata Rena si bunga sepatu kepada ulat, “kalian boleh memakan daun kami para bunga sepatu di taman ini.”

“Benar, kami rela membagi daun kami kepada kalian,” ucap bunga sepatu lainnya.

Ulat sangat berterimakasih atas kebaikan bunga sepatu dan berkata.

“Terimakasih, kalian telah menolong kami.”

Akhirnya di taman itu bunga mawarlah yang paling indah karena daun mereka utuh. Terkadang beberapa bunga mawar mengejek bunga sepatu yang daun-daunnya bolong akibat dimakani ulat.

Suatu ketika, seorang manusia mendatangi taman itu. Dia berkata.

“Aku akan mengambil beberapa bunga disini. Oh tidak…bunga-bunga sepatu ini daunnya dimakani ulat. Aku ambil lima bunga mawar ini saja, daunnya masih bagus.”

Lalu manusia itu mencabut lima bunga mawar dari taman itu dan pergi. Taman itu berduka, khususnya bunga mawar. Mereka kehilangan lima anggotanya. Sekuntum bunga sepatu tiba-tiba berbisik kepada ulat.

“Kami harus berterimakasih kepada kalian. Kalau daun kami tidak dimakani kalian, mungkin kami juga diambil oleh manusia seperti lima bunga mawar itu.

hantu berwajah putih

Hujan baru saja berhenti turun. Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Untuk kesekian kalinya Shasa melihat ke arah jalan di muka rumah. Mama belum juga pulang. Setengah jam yang lalu mama menelepon. Ia masih terjebak macet di jalan. Di musim hujan seperti sekarang ini, di mana-mana memang sering terjadi macet.

Telepon rumah berbunyi. Dilihatnya Tante Ria yang menemaninya di rumah bergegas mengangkat gagang telepon. Shasa kembali melihat keluar. Duhhh.. kapan sih mama pulang?

“Sabar Sha.. Nanti juga mama pulang.” Tante Ria yang sudah menyelesaikan percakapannya di telepon berusaha menghibur Shasa.

“Tadi itu telepon dari mama ya?” tanya Shasa sambil memalingkan pandangannya.

“Bukan. Tadi itu telepon dari Om Iwan. Katanya dia gak bisa menelepon ke rumahnya. Jadi dia minta tolong kita ke rumahnya dan memberitahu istrinya. Siapa tahu letak gagang telepon di rumah mereka tidak pas,” kata Tante Ria.

Shasa melongokkan kepalanya. Rumah Om Iwan letaknya berhadapan dengan rumah Shasa. Dilihatnya pintu rumah Om Iwan tertutup.

“Mungkin Tante Puspa sedang pergi. Tuhh.. pintunya tertutup,” kata Shasa mengemukakan pikirannya. Tante Puspa itu nama istri Om Iwan.

“.. tapi itu mobilnya ada,” bantah Tante Ria.

“Siapa tahu perginya gak naik mobil. Lagian kok Om Iwan gak nelepon ke handphone Tante Puspa?” tanya Shasa.

“Tadi juga Tante Ria sudah bertanya seperti itu tapi kata Om Iwan handphone Tante Puspa sedang diperbaiki.” Tante Ria menjelaskan.

“Bagaimana kalau Shasa pergi ke rumah Om Iwan, nge-cek apakah Tante Puspa ada di rumah sekaligus menyampaikan pesan Om Iwan?”

kejujuran jati

Jati mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Setelah satu jam lamanya ia berkeliling komplek perumahan untuk menawarkan barang dagangannya, ia berhasil mengumpulkan beberapa lembar rupiah. Sudah tiga hari ini, Jati berjuang keras untuk mengisi liburan sekolahnya dengan berjualan susu kedelai buatan ibunya. Ia berkeliling komplek perumahan yang tak jauh dari kampungnya. Ia belum akan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya laku terjual.. sekilas terbayang raut muka memelas wajah Asih, adik satu-satunya.

Jati memang ingin mengumpulkan uang sekedar untuk membelikan obat adiknya, yang kini terbaring lemah tak berdaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jati, mengingat Ayahnya yang bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membawa Asih ke Dokter apalagi Rumah Sakit. Pernah suatu ketika Asih dibawa ke Rumah Sakit karena penyakit radang paru-paru yang dideritanya. Namun, belum sampai tuntas pengobatannya Asih harus segera dibawa pulang karena tak kuat menanggung biaya Rumah Sakit yang begitu mahalnya.

" Alhamdulillah, daganganku laris hari ini. Susu kedelai buatan Ibu memang luar biasa " Gumam Jati, setelah itu ia menghitung lembaran rupiah yang berhasil ia kumpulkan hari ini. " Dua puluh ribu, Yess! Itu artinya aku masih bisa menyisihkan uang untuk membeli obat buat Asih. Sabar ya dik, Aku akan senantiasa berdo'a dan berusaha untuk kesembuhanmu. Supaya kita bisa kembali bermain, belajar, mengaji abatatsa di Mushala, Ustadz Ahmad pun tentu sudah kangen dengan celotehmu yang lugu dan lucu "

Jati terus berjalan menyusuri komplek perumahan menuju rumahnya. " ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, susu kedelai buatan ibu terjual habis. Sore nanti aku akan kembali berkeliling, menjajakan minuman kesehatan buatan ibuku tersayang. Dan siang ini aku masih bisa bermain layang-layang bersama Sufyan. Sungguh liburan yang paling menyenangkan "

Di tengah-tengah perjalanan menuju kampungnya, kaki Jati menyampar sebuah dompet. "Ups,.. dompet siapa ini?" tanya Jati keheranan. Dengan gemetar ia membuka isinya. "Masyaallah, uang??!!" Jati semakin terperanjat kaget karena bisa dipastikan ia tak pernah memegang atau memiliki uang sebanyak ini. Kepala Jati menoleh kanan dan kiri, tak ditemuinya seorang pun. Keringat panas dingin mendadak bercucuran dari dahi Jati. "ah... aku tak pernah memegang uang sebanyak ini" gumamnya. "lalu milik siapa ini?!". Buru-buru jati menyimpan dalam plastik hitam yang ia bawa. bergegas ia berlari menuju rumahnya hendak bercerita kepada Ibunya.

tiga sekawan

Tobby, Molly dan Dipsy merupakan  tiga ekor kucing yang sangat lucu dan jinak. Mereka di rawat dan dibesarkan oleh seorang gadis muda di sebuah rumah mungil, bersih dan indah. Tobby, Molly dan Dipsy mendapatkan kasih sayang yang sama serta tidak pernah dibeda-bedakan oleh pemiliknya.

Tobby merupakan kucing ras keturunan Persia, Molly merupakan kucing peranakan antara kucing angora dan kucing local, sedangkan Dipsy merupakan kucing local. Ketiganya sangat akur dan bersahabat. Tobby yang merupakan kucing tertua sangat sayang kepada keduanya, dia tak segan-segan  menjilati dan  membiarkan tubuhnya ditiduri oleh Dipsy kucing termuda dan terkecil.

Tobby, Molly dan Dipsy tidak pernah di izinkan keluar rumah oleh pemiliknya, karena pemiliknya khawatir mereka akan di lukai oleh kucing lainnya atau hilang. Mereka mendapatkan makanan yang bergizi dan juga di beri susu setiap harinya. Suatu ketika Molly menyampaikan keinginannya kepada Tobby dan Dipsy, bahwa dia ingin melihat dunia luar, kemudian Molly mengajak Tobby dan Dipsy untuk berpetualang.

MOLLY
Tobby, Dipsy aku ingin sekali melihat dunia luar.

TOBBY
Jangan Molly, nanti kamu  bisa di lukai oleh kawanan kucing liar.

MOLLY
Bagaimana kalau kita keluar bersama-sama?

DIPSY
Aku takut Molly, lagian kita sudah enak ada disini.

TOBBY
Iya Molly, kalau kita kesasar gimana?

Akhirnya Molly berhasil meyakinkan  kedua sahabatnya Tobby dan Dipsy untuk bersama-sama pergi keluar rumah. Mereka sangat menyukai apa yang  mereka lihat di luar rumah, sesuatu hal yang sebelumnya belum pernah mereka lihat. Tanpa mereka sadari sekawanan kucing liar sudah mengintai mereka bertiga, dan benar saja apa yang di khawatirkan dan disampaikan oleh pemilik mereka benar-benar terjadi. Kucing-kucing liar tersebut mengepung Tobby, Molly dan Dipsy.


DIPSY
Lihat itu Tobby dan Molly !!!

MOLLY
Iyaa, aku melihatnya.

DIPSY
Hai kawan, sapa Dipsy kepada segerombolan kucing liar.

KUCING LIAR 1
Ini daerah kekuasaan kami.

KUCING LIAR 2
Kalian jangan sok akrab sama kami.

KUCING LIAR 3
Kami tidak suka kalian ada disini.

MOLLY
Kami ingin berteman dengan kalian.

KUCING LIAR 1-2-3
Hahahahaha… Hahahahaha…

TOBBY
Kenapa kalian tertawa? Apanya yang lucu?

KUCING LIAR 4
Sudah, kita habisi saja mereka.

KUCING LIAR 5
Ayo kita lukai mereka.

KUCING LIAR 6
Kami tidak mau bersahabat dengan kucing-kucing manja seperti kalian.

MOLLY
Kami datang kemari dengan damai, tidak menginginkan permusuhan.

KUCING LIAR 1
Sudah diam, ayo lawan kami.

MOLLY
Tidak mau.

DIPSY
Kalian ramai-ramai, sedangkan kita hanya bertiga.

KUCING LIAR 3
Baik, lawan kami satu persatu.

KUCING LIAR 2
Benar, siapa yang maju duluan?

Tobby segera berbisik kepada Molly dan Dipsy. Mereka mengatur strategy agar terhindar dari perkelahian  yang  tidak seimbang tersebut.

TOBBY
Ternyata benar apa yang selama ini disampaikan kepada kita.

MOLLY
Aku menyesal sudah membuat kita dalam kesulitan sekarang.

DIPSY
Apa yang harus kita lakukan sekarang?

TOBBY
Kita lari saja dari sini menghindari mereka.

MOLLY
Baik lah, ku hitung aba-aba sampai tiga yaa.

TOBBY
Aku siap.

DIPSY
Siap.

MOLLY
1 – 2 – 3

Tobby, Molly, Dipsy melarikan diri dari gerombolan kucing-kucing liar tersebut. Mereka sangat marah  melihat hal tersebut. Tanpa segan-segan mereka ber enam  mengejar Tobby, Molly dan Dipsy. Tanpa disadari Tobby dan Molly terpisah dari Dipsy sih kecil. Tobby dan Molly berhasil sembunyi dari kejaran segerombolan kucing liar tersebut, tapi mereka tidak tahu bagaimana dengan nasib Dipsy. Melihat situasi sudah aman dan terkendali akhirnya Tobby dan Molly keluar dari persembunyiannya. Tobby dan Molly berjalan  terus ke arah Selatan dan sudah sangat jauh dari rumah. Tobby dan Molly sudah mulai merasakan lelah dan lapar yang teramat sangat. Mereka sudah tidak kuat untuk berjalan lagi, kemudian mereka tertidur di bahu jalan seperti kucing liar yang tidak terurus dan terawat.

    
Dipsy yang terpisah dari Tobby dan Molly saat kejaran gerombolan kucing liar, jauh lebih beruntung. Dipsy bertemu dengan gadis muda yang merawat dan membesarkan mereka saat dalam kejaran gerombolan kucing liar tersebut. Segerombolan kucing liar tersebut di halau dan di usir oleh gadis muda tersebut, kemudian Dipsy di gendong masuk kedalam mobil tua pemiliknya. Tidak seperti Tobby dan Molly, Dipsy merasakan kehangatan dan kasih sayang pemiliknya seperti hari-hari sebelumnya. Menyadari Tobby dan Molly juga tidak ada di rumah, buru-buru gadis muda tersebut pergi mencari mereka, dengan sebelumnya memberi Dipsy makanan dan susu serta menaruhnya di dalam kandang. Hal tersebut di lakukan agar Dipsy tidak melarikan diri lagi dari rumah.

Sementara itu Tobby dan Molly yang sudah lemah tiba-tiba dikejutkan oleh rasa dingin yang  menusuk  tulang  mereka. Ternyata oleh anak-anak nakal mereka di siram dengan air es. Tobby dan Molly berupaya sekuat tenaga berlari meninggalkan tempat itu. Molly sudah terluka, karena saat mereka lari menghindari anak-anak nakal tersebut, tubuh Molly terkena lemparan batu. Molly merasakan sakit yang teramat sangat di tubuhnya yang terdapat luka sobek. Tobby yang saat itu bersamanya berusaha untuk menjilati luka Molly. Tak berapa lama berselang tiba-tiba ada sebuah mobil tua berhenti tidak jauh dari mereka. Ternyata gadis muda yang merawat mereka selama ini berhasil menemukan mereka. Tobby dan Molly sangat gembira, akhirnya mereka ditemukan oleh pemiliknya. Gadis muda tersebut menggendong Tobby dan Molly masuk ke dalam mobilnya dan membawa mereka ke klinik hewan guna di obati dan mendapatkan perawatan intensif.

Tobby yang hanya kelelahan dan kelaparan di izinkan pulang dari klinik hewan tersebut, tapi tidak dengan Molly, karena Molly harus di rawat inap di klinik tersebut dikarenakan luka tersebut harus di jahit. Tobby sedih melihat kondisi Molly, tapi dia juga senang karena petualangan mereka yang tidak mengenakan tersebut sudah berakhir dan mereka kembali ke pelukan pemiliknya. Gadis muda tersebut membawa Tobby pulang, saat di rumah Tobby senang sekali karena ternyata Dipsy selamat dan sudah ada dirumah mereka lagi. Setelah di beri susu hangat dan makanan, Tobby ditempatkan bersama Dipsy. Tobby menceritakan kejadian yang mereka alami kepada Dipsy, sampai akhirnya menyebabkan Molly harus di rawat di klinik karena luka sobek di tubuhnya. Dipsy sangat sedih mendengarnya.

Seminggu telah berlalu, akhirnya Molly di izinkan pulang bersama gadis muda pemiliknya  tersebut, bahkan lukanya sudah sembuh berkat perawatan dari klinik hewan tersebut. Di dalam mobil Molly mendapat kejutan menyenangkan, ternyata Tobby dan Dipsy ikut menjemputnya. Sepanjang perjalanan pulang, gadis muda pemilik mereka berkata “ Sudah cukup ya petualangan kalian anak-anak, tolong jangan pernah pergi lagi dan menghilang dari rumah karena aku sangat mencintai dan menyanyangi kalian semua tanpa terkecuali.” Betapa beruntungnya TIGA SEKAWAN tersebut mendapatkan tempat di hati gadis muda tersebut. Mereka semua pulang kerumah dengan perasaan riang dan gembira.

lima ekor anak kucing

Ngeong…! Suara Kucing itu pelan. Ia baru saja melahirkan lima ekor anak laki-laki yang sangat lucu-lucu sekali. Bulunya berwarna-warni, ada yang belang abu-abu, orange, putih, hitam dan emas. Anak-anaknya diberi nama Kaka, Kuku, Kiki, Keke, Koko.
Mereka tinggal di dalam gudang rumah Eza. Ibu kucing sedang menyusui kelima anaknya yang lucu-lucu itu.
“Bu, aku lapar.” kata Kaka.
“Kita juga lapar bu.” sahut keempat adik Kaka.
“Sabar ya nak, sakarang masih sore.” Jawab Bu Kucing.
“Memangnya kenapa bu?” Tanya Kiki anak ke-3.
“ Soalnya tikus-tikus masih sulit ibu tangkap, karena mereka sangat cepat dan lincah larinya. Kalian minum susu ibu saja dulu.”
Malam pun datang. Bu kucing sudah siap memburu tikus untuk kelima pandawa anaknya. Langkah demi langkah Bu bucing berjalan, pelan sekali. Sambil menengok kanan kirinya barang kali ada tikus yang muncul. Bu kucing masuk ke lemari bekas yang sudah terbuka. Ternyata ada 2 ekor tikus. Dengan cakar yang kuat dan taring yang tajam, 2 tikus langsung mati seketika. Satu untuk anaknya dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.



“Hore…asyik…ibu bawa makanan.” teriak kelima anaknya.
“Jangan berebut ya.” ucap Bu Kucing. Mereka makan dengan lahap. Setelah selesai makan mereka langsung tidur.
Setelah seminggu, sekarang anak-anaknya ingin berlatih mencari makanan sendiri. Koko si bungsu juga berlatih berburu, ia mendapatkan tikus yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Terkaman Koko belum sekuat ibunya, gigitannya juga belum kuat. Hal ini membuat tikus itu bisa lepas, bahkan ia menyerang balik Koko.
Ngik..ngik..ngik ! Koko kesakitan. Tikus itu menggigit lehernya. Untung saja keempat saudaranya si Kaka, Kiki, Kuku dan Keke melihatnya.
“Koko!” teriak saudaranya khawatir.
Kuku mencoba melepaskan gigitan tikus itu. Sedang Keke mengigit dan menarik kaki tikus. Kiki dan Kaka menarik adiknya yang sudah kesakitan.
“Kamu tak apa-apa Ko?” tanya Kiki.
“Leherku sakit sekali.” jawabnya.
Leher Koko berdarah. Ia sangat lemas. Kemudian Koko dibawa ke rumahnya (gudang). Bu Kucing kaget dan sedih melihat Koko yang terluka. Ia membalut luka dilehernya.



“Maafkan ibu, serharusnya ibu saja yang berburu mencari makan.”
“Ini bukan salah ibu. Lain kali kita harus lebih hati-hati dalam berburu.” ujar Kaka.
“Betul apa kata Kaka.” sahut Keke dan Kuku.
“Ya sudah. Sekarang kalian semua tidur saja, biar ibu yang menjaga Koko.”
Besoknya. Bu kucing dan anak-anaknya kecuali Koko pergi mencari makan seperti biasa. Namun mereka tidak menemukan satu ekor tikus pun. Mereka jadi sangat kelaparan.
“Dimana Kuku?” tanya Bu kucing pada ketiga anaknya.
“Aku tidak tahu Bu.” Jawab Kaka. “Bukannya tadi denganmu Keke?” lanjutnya.
“Iya, tapi tadi kita berpisah ketika pergi dari dapur.”
Bu kucing khawatir kalau Keke mencuri makanan di dapur rumah Eza. Kalau benar terjadi, maka akan dibuang ke hutan oleh Eza.
“Bu! Aku bawa makanan!” teriak Kuku gembira.
“Dari mana makanan itu Kuku?” tanya Bu kucing dengan nada keras dan cemas.
“Aku ambil di lemari makan Eza.” jawab Kuku ketakutan.



“Ibu sudah bilang, jangan mengambil makanan di rumah ini. Soalnya kalau sampai Eza atau keluarganya tahu, nanti kita akan di buang ke hutan. Sekarang kembalikan ikan itu Kuku!”
“Tapi kita kan lapar bu?” ucap kuku memelas.
“Nanti kita cari makan di pasar saja.” kata Bu kucing.
Tapi semua sudah terlambat. Eza sudah mengetahui kalau ikannya telah dicuri kucing-kucing itu. Semua kucing dimasukan ke dalam karung. Bu kucing dan anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka di bawa ke hutan dan di buang.
Satu persatu kucing itu keluar dari karung. ”1,2,3,4..?” Bu kucing menghitung anaknya. Ternyata cuma ada 4 ekor anak kucing. Lalu dicari lagi dalam karung, tapi tetap tidak ada. Ternyata ia ingat kalau Koko yang masih sakit masih berada di rumah Eza.
“Anak-anaku, kita harus kembali ke rumah mencari Koko.”
“Tapi kan rumahnya jauh sekali Bu.” ujar Kiki.
“Tidak apa-apa, nanti kita bisa naik kendaraan saat di jalan raya. Ayo kita berangkat sekarang Nak!” ajak Bu kucing.



Mereka segera pergi ke rumah kembali meski sangat jauh. Untungnya ada mobil bak yang lewat, sehingga mereka loncat dan ikut bersama mobil bak itu menuju rumah Eza. Sayang sekali pintu rumah itu terkunci. Kaka, Kiki, Kuku dan Keke masuk lewat jendela. Bu kucing tak bisa masuk karena tak cukup jendelanya.
“Aduuh!” teriak Kuku karena ekornya terjepit jendela.
“Husttt! jangan berisik.” kata Kaka. “Kita harus berpencar. Aku dan Kiki ke gudang, Keke dan Kuku Ke dapur.”
Mereka mencari kesetiap sudut ruangan tetapi tak menemukan Koko juga. Kemudian terdengar suara dari kamar Eza.
Ngeong, ngeong…!
Ternyata Koko di bawa ke kamar Eza karena merasa kasihan mendengar suara Koko yang sendirian di gudang. Keempat anak kucing itupun menddekati Koko. Eza sadar kalau kucing juga tak bisa pisah dengan keluarganya. Akhirnya Eza memutuskan membuatkan rumah kucing dan memberi makan setiap hari. Bu kucing dan kelima anaknya merasa senang sekali karena mereka sekarang berkumpul semua.
Hore hore hore !!! teriak semua kucing tertawa riang.

tabungan kambing

“Mama ini kotak apa?” tanya Azlia pada mamanya.
“Oh itu kotak tabungan.”
“Kotak tabungan apa?”
“Papa sama mama setiap hari mengisi seribu ke dalam kotak itu. Uangnya nanti buat beli kambing. Kambingnya buat Idul Adha tahun depan.”
“Oh, seperti dompet Azlia ya. Itu dompet tabungan.”
“Memang Azlia punya dompet? Tabungannya buat apa?”
“Punya.” Sebentar, Azlia bergegas mencari tas kecilnya. Dia membongkar isi tasnya, di tas itu ada tempat pensil pemberian BuDe. “Nah, ini dia dompetnya”, seru Azlia sambil mengeluarkan dompet kertas buatannya dari tempat pensil. Di dalam dompet itu tersimpan beberapa uang logam.
“Wah, Azlia pintar menyimpan uang ya! Tabungannya buat beli apa?”
“Buat beli jam warna pink seperti punya Keisha.” Azlia sudah punya jam, tapi warna ungu. Mama bilang, jamnya cukup satu, harus dijaga jangan sampai rusak, kena air, dan jatuh. Kalau jamnya rusak, mama tidak mau membelikan lagi. Karena di sekolah, teman-temannya punya jam warna-warni, Azlia juga ingin pakai jam bergantian, apalagi kalau warna pink kesukaannya.
“Oh, begitu. Hati-hati simpan uangnya ya. Kalau sudah terkumpul cukup, nanti mama antarkan beli jam pink.”
“Mama, ini Azlia juga ikut nabung buat beli kambing ya!”, ujar Azlia sambil menyerahkan tiga uang logam dari dompetnya. “Besok, kalau ada lagi, Azlia tambah lagi.”
“Loh, nanti uang buat beli jam pinknya kurang banyak!”
“Buat beli kambing saja deh. Azlia kan sudah punya jam ungu. Kata mama jamnya satu saja. Azlia juga mau punya kambing sendiri di hari Idul Adha nanti.”
“Alhamdulillah. Terima kasih ya, Nak!”
“Sama-sama.” Jawab Azlia dengan senyum manis sekali. Dia sudah membayangkan tahun depan punya kambing sendiri.

sepedah langit

Perkenalkan namaku Marisa, biasanya dipanggil Icha, aku murid SD kelas 1, aku punya sedikit cerita tentang liburan semester 1 kemarin. Awal ceritanya seperti ini...

Kami disuruh Ibu guru membuat cerita tentang kegiatan selama liburan, aku tidak punya banyak cerita karena aku hanya dirumah saja bersama ayah dan Ibu sesekali membantu ibu membersihkan rumah, tapi Aku punya cerita lucu tentang sepeda langit temanku.

Kami mendapat giliran untuk bercerita, tibalah giliran Andika maju kedepan kelas dan mulai bercerita, katanya selama liburan sekolah dia senang sekali bermain sepeda langit barunya, diapun menjelaskan buku yg ada gambar sepeda langitnya.

“Aku selama liburan senaaaang sekali karena aku punya sepeda langit, dibelikan oleh bunda.”

Kami sekelas heran “hah...sepeda langit...sepeda apa itu??”

Lalu Andika menjelaskan dengan senang sekali, sambil loncat-loncat dia bercerita, hampir jatuh buku gambar ditangannya.

“Saya dapat sepeda langit dari bunda, karena saya dapat nilai raport yang bagus kemarin!”

Ibu guru kami juga terheran-heran dan bertanya:
“Sepeda langit itu maksudnya sepeda apa Andika?”

Andika senang sekali melihat kami terheran-heran dan bertanya-tanya.

“Saya dari dulu kepingin sekali punya sepeda, tapi kata bunda saya akan dibeliin sepeda kalau saya dapat nilai bagus, makanya saya rajin belajar supaya dapat nilai bagus dan dapat sepeda, begitu teman-teman!”

Aku bertanya pada Andika “kenapa namanya sepeda langit??? Ada-ada saja!”

“Oooh itu karena saya kepingin banget cepat punya sepeda dan berkhayal kalau saja ada sebuah sepeda yang jatuh dari langit tanpa menunggu dibeliin bunda soalnya saya sudah tidak sabar pingin punya sepeda, makanya saya kasih nama sepeda langit”

“Haha...haha...haha..” Kami tertawa mendengar alasan Andika, tapi aku salut padanya, karena dia bisa mendapatkan sepeda langit impiannya. Aku akan mengikuti Andika untuk rajin belajar supaya bisa mendapatkan hadiah juga.

ibu sayang

Dewi dan Dito adalah dua anak yang bersaudara terlahir di keluarga yang kurang mampu. Ibunya cacat tidak bisa berjalan secara normal karena kecelakan 4 tahun yang lalu, ayahnya telah tiada sejak mereka masih kecil. Namun mereka hidup dengan bahagia walapun serba kekurangan. Sekarang Dewi sudah kelas 5 dan Dito kelas 3. Mereka hidup rukun, setiap pulang sekolah selalu membantu ibunya mencuci pakaian dirumah tetangga, terkadang menyetrika baju. Setelah pekerjaan selesai barulah mereka belajar. Mereka bercita-cita ingin menjadi dokter.

Pada suatu ketika ibunya sakit keras yang di vonis dokter kropos tulang sumsumnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk bekerja menjadi tukang cuci. Dengan susah payah, dewi dan dito bekerja keras membantu ibunya agar tetap hidup, siang malam tak pernah ada waktu untuk bermain bagi mereka. Yang ada hanyalah mencari uang dan belajar supaya bisa bersekolah dan tetap bisa meraih cita-citanya.

Di luar sana banyak teman mereka yang berparas cantik dan kaya akan tetapi tidak sedikitpun membuat mereka minder dalam bergaul, walaupun terkadang membuat mereka bersedih. Setiap hari mereka sudah bertekad untuk menabung supaya bisa membelikan kado untuk ibunya agar ibunya bisa bahagia yaitu dengan berjualan sayuran di depan rumahnya.

Cita-cita yang sangat mulia tepat di hari Ibu sedunia Dewi dan Dito memberikan kado yang istimewa yaitu meja dan beberapa sayuran untuk modal dalam dagang pertama, dan Dewi juga lulus dengan peringkat pertama se Provinsi sehingga ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke SMP. Sementara Dito selalu mendapat peringkat pertama di Sekolah Dasar nya. Dan ibunya sejak itu berjualan sayuran dirumahnya dengan amat sangat laris, kehidupan mereka menjadi lebih baik.

moyet makan manggis

Dari segi fisik, ia adalah pemuda yang kekar. Badannya sehat dan kokoh. Namun sayang, penampilannya nampak semrawut. Hidupnya tak memiliki arah yang jelas. Kerjanya hanya nongkrong dan nongkrong. Menghabiskan waktu dengan percuma di gardu pojok desa dengan teman-temannya. Bahkan, tidak jarang, ia hanya bengong di sana seorang diri. Ia merasa hidupnya tak berguna lagi setelah beberapa usaha yang ia rintis akhirnya kandas di tengah jalan. Pernah juga, ia bekerja pada orang lain tapi akhirnya keluar juga. Tidak betah karena merasa selalu diperintah.
Pagi hari ketika semua orang bangun dan segera berangkat ke tempat kerja masing-masing, pemuda tersebut biasanya masih terlelap tidur, dan baru akan terbangun ketika hari sudah siang. Dan dengan langkah lunglai serta tatapan kosong, ia akan ke gardu tersebut. Begitulah hari-hari yang ia lalui. Mengalir tanpa makna dan manfaat sedikit pun.
Suatu hari, pemuda tersebut diajak berburu ke hutan oleh pamannya. “Daripada tak ada yang kamu kerjakan, mending ikut paman berburu kijang di hutan,” ajak Sang Paman. “Bagaimana, mau?”
Dia tak langsung menyahut tapi malah mengeluh, “yah, kok ke hutan sih paman, apanya sih yang menarik di sana?”




“Khan, sudah paman bilang tadi,” jawab Sang Paman. “Kita hanya mau berburu. Titik! Kalau kamu tidak mau, ya sudah, paman berangkat sendiri.”
“Tapi masa aku ikut dengan tangan hampa begini?”
“Ya sudah, cepat sana, ambil senapan satunya lagi!”
Akhirnya, berangkatlah mereka berdua ke hutan. Tapi baru setengah perjalanan, si Pemuda mengeluh, “Aduh paman, kita beristirahat dulu ya? Capek nih!”
Sang Paman hanya bisa memandangi keponakannya dengan geleng-geleng kepala. “Parah benar anak ini,” bisiknya dalam hati. “Bagimana sudah hilang capeknya? Yuk, kita berjalan lagi!”
Baru beberapa langkah kaki tiba-tiba, “Ssssst…!” bisik Sang Paman pada pemuda tersebut sambil menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, “Tenang…tenang….!”
“Ada apa paman?” tanya pemuda itu dengan berbisik pula.
“Kamu lihat di sana! Dibalik semak-semak itu.”
“Semak yang mana paman? Yang mana?




“Itu…tu…yang di sebelah kiri pohon besar itu! Kamu lihat?”
“Ya, paman,” jawabnya.
“Ada apa?”
“Seekor kijang.”
“Betul sekali!” ujar Sang Paman. “Sekarang kamu arahkan senapanmu dan tembaklah kijang itu! Kamu siap?” kata pamannya dengan suara yang nyaris tak terdengar karena terlalu lirih. Takut kalau-kalau kijang itu mendengarnya dan lari.
“Siap paman!”
Pemuda itu mulai membidikkan ujung senapannya ke arah kijang di balik semak itu ketika tiba-tiba, “Ciiit….ciiit…ciiiit….,” tepat di atas kepalanya. Pada sebuah dahan pohon manggis, dua ekor monyet sedang bertarung sengit memperebutkan kepemilikan atas pohon itu. Monyet yang lebih besar itu pun menang dan berhasil mengusir monyet satunya.
Suara berisik dua ekor monyet itu telah membuat kijang buruannya berlari. Hilanglah kini kesempatan emas untuk mendapatkannya. “Sialan!” umpatnya, “Dasar monyet!”




Karena kesal, pemuda itu memutuskan untuk menembak monyet yang tengah asyik bergelayutan kesana-kemari di dahan pohon manggis untuk memilih-milih buahnya. Namun, ada hal ganjil menurutnya, ketika dia perhatikan bahwa monyet tersebut selalu membuang buah manggis yang dia petik setelah baru digigitnya sedikit.
“Satu…dua….tiga….,” pemuda itu menghitung buah yang dilempar monyet itu, “Empat…lima…enam…..”
“Hai…ayo kita kejar kijang itu. Paling, dia tidak jauh dari sini!” ajak pamannya. Tapi, pemuda itu tetap di tempatnya. Memperhatikan ulah si monyet. Dia pun tak jadi menembak monyet tersebut. Akhirnya, dia ditinggalkan oleh pamannya. “Aku akan mengejar kijang itu! Kamu tunggu saja di sini,” kata pamannya.
Ulah monyet tersebut telah membuatnya terheran-heran. Dalam perjalanan pulang dengan pamannya, si pemuda memberanikan diri bertanya tentang apa yang dilihatnya, “Paman, kenapa monyet itu selalu membuang buah manggis manis yang dia petik. Padahal, baru digigitnya sebentar. Dan sebiji pun buah manisnya belum dia rasakan?”




Si paman tersenyum mendengar pertanyaan keponakannya. “Itulah mengapa orang bijak mengatakan: Jadi manusia jangan seperti monyet makan manggis,” jelas pamannya. “Itu adalah gambaran bagi seseorang yang mudah bosan dan menyerah ketika bertemu sedikit halangan dan cobaan pada sesuatu hal yang dia geluti. Padahal, sebenarnya, di balik itu semua terdapat kesuksesan yang menjanjikan. Manusia dengan karakter seperti itu, tidak akan pernah mengetahui kebaikan yang terkandung dalam setiap persoalan hidup. Persis seperti si monyet yang membuang manggis yang baru sedikit digigitnya. Karena kulit manggis pahit, dia segera membuang buah manggis itu. Padahal, di dalamnya ada buah yang manis rasanya.”
Sepanjang perjalanan pulang itu, Si pemuda hanya diam. Dia menyerap nasihat pamannya dengan penuh perhatian. Dia merasa nasihat pamannya memang benar. “Aku tidak ingin menjadi seperti monyet itu!” tekadnya dalam hati. “Aku harus bangkit dari keterpurukan ini untuk menyongsong kesuksesan hidup.”

ikan dan burung

Di sebuah hutan hiduplah dua binatang yang saling bersahabat. Binatang itu adalah burung dan ikan. Keduanya sangat dekat dan selalu saling membantu. Kedekatan keduanya ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu kejadian yang mengubah mereka. Waktu itu ikan sedang beristirahat di pinggiran sungai. Ia memandangi biji-bijian di pohon tepat di atasnya.

“Kelihatannya biji-bijian itu enak dimakan” kata ikan dalam hati.

Ia lalu berusaha meloncat setinggi-tingginya untuk mendapatkannya. Berkali-kali ia meloncat, namun tidak berhasil mencapai biji-bijian itu. Ia hanya bisa memandangi biji-bijian itu. Saat sedang memandangi biji-bijian itu, perhatiannya teralihkan oleh seekor burung yang berterbangan ke sana-kemari.

“Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku sayap untuk terbang agar aku bisa meraih biji-bijian itu?” Kata si ikan dalam hati.

Kita tinggalkan si ikan dan beralih ke burung.
Setelah beterbangan, burung lalu hinggap di salah satu dahan pohon di pinggir sungai untuk beristirahat. Saat itu ia melihat ke air. Di dasar air sungai itu ia melihat banyak sekali cacing bergeliatan.

“Kelihatannya cacing-cacing itu enak dimakan.” Kata burung dalam hati.

Ia lalu berusaha masuk ke dalam air untuk menyelam dan menangkap cacing-cacing itu. Namun, ia tidak berhasil karena ia tidak bisa berenang. Ia lalu hanya bisa memandangi cacing itu dari atas pohon. Saat sedang memandangi cacing-cacing di dalam air, perhatiannya teralihkan pada ikan yang sedang berenang di dalam air.

“Tuhan, kenapa Engkau tidak memberiku ekor dan sirip untuk berenang agar aku bisa meraih cacing-cacing dalam air itu?” kata si burung dalam hati.

Akhirnya ikan dan burung saling tahu kesulitan masing-masing. Berkali-kali si ikan melihat burung menyelam ke air untuk mendapatkan cacing. Demikian pun si burung berkali-kali melihat ikan meloncat-loncat untuk mendapatkan biji-bijian. Lalu mereka berkenalan.

“Hei ikan, apakah kau menginginkan biji-bijian ini? kata burung.
“Benar, tapi aku tidak punya sayap sepertimu sehingga tidak bisa terbang mendapatkan biji-bijian itu.” jawab si ikan.
“Aku juga menginginkan cacing di dasar sungai, tapi aku idak punya sirip sepertimu sehingga tidak bisa mendapatkan cacing-cacing itu.” balas si burung.
“Gimana jika kau membantuku mengambil biji-bijian itu dan aku akan membantumu mendapatkan cacing-cacing di dasar sungai.” Ajak si ikan.
“Wow ide bagus, aku setuju.” Sahut si burung.

Akhirnya ikan dan burung menjadi sahabat dan saling membantu.

negri kupu kupu

Sudah tiga hari Liza tidak masuk sekolah karena kakinya kesleo gara-gara jatuh dari sepeda.. Setiap pagi sampai siang ia di rumah sendirian. Bi Imah, pembantunya, juga sedang pulang kampung menjenguk neneknya yang sedang sakit.. Papa dan Mama kerja sampai sore sedangkan Kak Rizka juga sekolah sampai siang. Liza bosan seharian hanya baca komik atau nonton tivi.
Pagi itu Liza sedang meniup pianika untuk mengusir rasa sepi di teras belakang rumah sambil mengisi teka-teki dari sebuah majalah anak-anak. Ada tiga pertanyaan yang baru dijawab Liza dalam teka-teki itu. Pertama, apa nama taring gajah ?Gading Kedua, apa makanan kesukaan beruang ? Madu. Dan ketiga, air laut mengandung apa ?Garam. Ketika ia mencoba memainkan lagu Kupu-Kupu Yang Lucu, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seekor kupu-kupu berwarna kuning yangterjebak di kaca jendela. Kupu-kupu itu kelabakan sambil menabrak kaca jendela karena ingin keluar sehingga menimbulkan suara berisik.
“ Kasihan”, bisik hati Liza. Ia pun berhenti meniup pianikanya dan berjalan dengan tertatih-tatih sambil menahan sakit menuju ke jendela. Kupu itu semakin ketakutan ketika melihat Liza mendekat. Tetapi Liza membuka jendela dan dengan lembut menghalau kupu tersebut agar bisa keluar. Kupu kuning itu pun terbang bebas. Liza kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan lagunya sambil menyelesaikan teka-tekinya.
Sedang asyiknya Liza melanjutkan nyanyiannya , tiba-tiba kupu-kupu kuning tadi sudah ada di hadapannya. Ia hinggap di pangkuan Liza sambil mengepak-kepakkan sayapnya. Dan betapa terkejutnya ketika kupu itu berbicara.
“ Terimakasih Liza. Kau anak yang baik hati. Biasanya anak-anak suka mengejar –ngejar dan menangkapi kupu-kupu, bahkan tak jarang menyiksa dan me bunuh, tetapi kau telah menolong aku.. Sebagai ungkapan terimakasihku, aku akan mengajakmu melawat ke Negeri Kupu-Kupu. Ayo Lisa! Ikuti aku!”, ajak kupu itusambil terbang.
Kupu kuning itu terbang pelahan dan dikuti Liza berjalan terpincang-pincang sampaitiba di sebuah batu hitam di pojok kebun.



“ Sentuhlah batu itu dan pejamkan matamu sejenak”, perintah Si Kupu. Liza pun menuruti. Dan ketika membuka matanya, Liza sudah berada di Negeri Kupu Kupu nan indah mempesona.
Liza pun mempunyai sayap seperti kupu-kupu sehingga bisa terbang ke sana ke mari.
“Selamat datang di Negeri Kupu Kupu,Liza”, kata si Kupu Kuning ramah. Liza masih terkagum dan terpesona melihat pemandangan yang begitu indah. Beraneka ragam bunga dengan aroma harum wangi semerbak ada di sana , berbagai macam warna warni ribuan kupu menyambut dan mengiringi dirinya dengan ramah.
“ Liza, kami para kupu-kupu singgah di dunia hanya sebentar. Hanya satu dua hari saja setelah itu kami mati, namun sebenarnya jiwa kami kembali ke sini. Inilah tempat kami yang sejati dan abadi. Indah bukan ? Sesungguhnya kami turun ke dunia ingin membagikan keindahan dan keceriaan walau hanya sekejap, namun sayangnya justru manusia sering mengejar dan menangkapi kami”, kata Si Kupu itu sambil terus mengajak Liza terbang mengitari hamparan taman yang tiada tara.
Tiba-tiba Si Kupu berhenti dan hinggap di sebuah kelopak bunga sambil menunjukkan muka yang sedih.
“ Liza, maukah kamu menolong kami?”, pintanya.
“Kalau aku bisa, pasti akan kulakukan”, jawab Liza. Lalu Si Kupu bercerita bahwa Ratu Kupu mereka sekarang sedang sakit karena diserang oleh Kumbang Jahat.Racun sengatnya membuat Sang Ratu tak sadarkan diri. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan Sang Ratu tetapi belum ada hasilnya.
“Apa yang harus saya lakukan sahabatku ?” tanya Liza ikut sedih. Si Kupu pun lalu melanjutkan ceritanya. Menurut salah seorang tabib Negeri Kupu yang paling pintar, racun sengat itu hanya bisa ditawarkan oleh ramuan khusus. Sedangkan resep ramuan tersebut berupa teka-teki yang belum bisa dipecahkan.
“ Liza, maukah kamu membantu memecahkan teka-teki itu?”
“ Akan saya coba sebisa mungkin”, jawab Liza.



Liza pun diajak ke Istana Kupu tempat Sang Ratu terbaring tak sadarkan diri. Istana itu terbuat dari kristal dan batu mulia yang berkilauan. Beberapa guci dari pualam nampak tersusun rapi.
“ Guci-guci itu berisi madu terbaik untuk persediaan makanan kami”, jelas Si Kupu kepada Liza.
Ketika memasuki ruangan Istana, .betapa terkejutnya Liza melihat seorang putri cantik dengan sayap seperti sutra putih dan bermahkota zamrud manikam sedangtertidur tak sadarkan diri.
“Ini Ratu kami. Dan ini resep yang saya maksud”, kata si Kupu sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan: GAJAH TERSANGKUT DI POHON, BERUANG MANDI DI LAUT
Liza menatap tulisan tersebut dan terbang keluar sejenak untuk menemukan apa maksud teka-teki itu. Lalu ia hinggap pada sebatang pohon kelapa gading yang rimbun buahnya.
Tiba-tiba mata Liza terbelalak dan “ Aha !”.
“Gajah berarti gading…ya kelapa gading!”. Lalu Liza pun ingat guci guci berisi madu tadi . “Ah, beruang berarti madu ! Bukankah beruang suka makan madu? Dan....mandi di laut berarti garam !” Bukankah jawabannya sama dengan teka-teki yang ada pada majalah anak anak tadi ? Liza pun bergegas kembali ke Istana.
“ Tolong siapkan segelas air kelapa gading ditambah madu dan garam secukupnya ! Minumkan ramuan itu kepada sang ratu. Semoga bisa menawarkan racunnya!”, perintah Liza penuh keyakinan.
Liza benar. Sang Ratu pun sembuh dan sadar kembali setelah meminum ramuan itu.Sebagai rasa terimakasihnya, Sang Ratu menghadiahi Liza sebuah cermin wasiat.Dengan cermin itu kapan saja Liza bisa berkunjung ke Negeri Kupu-Kupu
“Liza! Bangun !Bangun! Masak tidur si kursi! Ayo pindah ke kamar!”, Rizka baru saja pulang sekolah mendapati adiknya sedang tertidur di kursi sambil memegangi pianika
“Aduh! Mana cerminku? Mana cerminku? Aku mau kembali ke Negeri Kupu “, kata Liza sambil mengusap matanya.
Rizka tersenyum sambil geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah adiknya, sambildalam hati berkata; ” Bisa-bisanya tidur di kursi aja kog sambil mimpi! Dasar tukangkhayal ! “Sudah tiga hari Liza tidak masuk sekolah karena kakinya kesleo gara-gara jatuh dari sepeda.. Setiap pagi sampai siang ia di rumah sendirian. Bi Imah, pembantunya, juga sedang pulang kampung menjenguk neneknya yang sedang sakit.. Papa dan Mama kerja sampai sore sedangkan Kak Rizka juga sekolah sampai siang. Liza bosan seharian hanya baca komik atau nonton tivi.
Pagi itu Liza sedang meniup pianika untuk mengusir rasa sepi di teras belakang rumah sambil mengisi teka-teki dari sebuah majalah anak-anak. Ada tiga pertanyaan yang baru dijawab Liza dalam teka-teki itu. Pertama, apa nama taring gajah ?Gading Kedua, apa makanan kesukaan beruang ? Madu. Dan ketiga, air laut mengandung apa ?Garam. Ketika ia mencoba memainkan lagu Kupu-Kupu Yang Lucu, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seekor kupu-kupu berwarna kuning yangterjebak di kaca jendela. Kupu-kupu itu kelabakan sambil menabrak kaca jendela karena ingin keluar sehingga menimbulkan suara berisik.
“ Kasihan”, bisik hati Liza. Ia pun berhenti meniup pianikanya dan berjalan dengan tertatih-tatih sambil menahan sakit menuju ke jendela. Kupu itu semakin ketakutan ketika melihat Liza mendekat. Tetapi Liza membuka jendela dan dengan lembut menghalau kupu tersebut agar bisa keluar. Kupu kuning itu pun terbang bebas. Liza kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan lagunya sambil menyelesaikan teka-tekinya.
Sedang asyiknya Liza melanjutkan nyanyiannya , tiba-tiba kupu-kupu kuning tadi sudah ada di hadapannya. Ia hinggap di pangkuan Liza sambil mengepak-kepakkan sayapnya. Dan betapa terkejutnya ketika kupu itu berbicara.
“ Terimakasih Liza. Kau anak yang baik hati. Biasanya anak-anak suka mengejar –ngejar dan menangkapi kupu-kupu, bahkan tak jarang menyiksa dan me bunuh, tetapi kau telah menolong aku.. Sebagai ungkapan terimakasihku, aku akan mengajakmu melawat ke Negeri Kupu-Kupu. Ayo Lisa! Ikuti aku!”, ajak kupu itusambil terbang.
Kupu kuning itu terbang pelahan dan dikuti Liza berjalan terpincang-pincang sampaitiba di sebuah batu hitam di pojok kebun.



“ Sentuhlah batu itu dan pejamkan matamu sejenak”, perintah Si Kupu. Liza pun menuruti. Dan ketika membuka matanya, Liza sudah berada di Negeri Kupu Kupu nan indah mempesona.
Liza pun mempunyai sayap seperti kupu-kupu sehingga bisa terbang ke sana ke mari.
“Selamat datang di Negeri Kupu Kupu,Liza”, kata si Kupu Kuning ramah. Liza masih terkagum dan terpesona melihat pemandangan yang begitu indah. Beraneka ragam bunga dengan aroma harum wangi semerbak ada di sana , berbagai macam warna warni ribuan kupu menyambut dan mengiringi dirinya dengan ramah.
“ Liza, kami para kupu-kupu singgah di dunia hanya sebentar. Hanya satu dua hari saja setelah itu kami mati, namun sebenarnya jiwa kami kembali ke sini. Inilah tempat kami yang sejati dan abadi. Indah bukan ? Sesungguhnya kami turun ke dunia ingin membagikan keindahan dan keceriaan walau hanya sekejap, namun sayangnya justru manusia sering mengejar dan menangkapi kami”, kata Si Kupu itu sambil terus mengajak Liza terbang mengitari hamparan taman yang tiada tara.
Tiba-tiba Si Kupu berhenti dan hinggap di sebuah kelopak bunga sambil menunjukkan muka yang sedih.
“ Liza, maukah kamu menolong kami?”, pintanya.
“Kalau aku bisa, pasti akan kulakukan”, jawab Liza. Lalu Si Kupu bercerita bahwa Ratu Kupu mereka sekarang sedang sakit karena diserang oleh Kumbang Jahat.Racun sengatnya membuat Sang Ratu tak sadarkan diri. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan Sang Ratu tetapi belum ada hasilnya.
“Apa yang harus saya lakukan sahabatku ?” tanya Liza ikut sedih. Si Kupu pun lalu melanjutkan ceritanya. Menurut salah seorang tabib Negeri Kupu yang paling pintar, racun sengat itu hanya bisa ditawarkan oleh ramuan khusus. Sedangkan resep ramuan tersebut berupa teka-teki yang belum bisa dipecahkan.
“ Liza, maukah kamu membantu memecahkan teka-teki itu?”
“ Akan saya coba sebisa mungkin”, jawab Liza.



Liza pun diajak ke Istana Kupu tempat Sang Ratu terbaring tak sadarkan diri. Istana itu terbuat dari kristal dan batu mulia yang berkilauan. Beberapa guci dari pualam nampak tersusun rapi.
“ Guci-guci itu berisi madu terbaik untuk persediaan makanan kami”, jelas Si Kupu kepada Liza.
Ketika memasuki ruangan Istana, .betapa terkejutnya Liza melihat seorang putri cantik dengan sayap seperti sutra putih dan bermahkota zamrud manikam sedangtertidur tak sadarkan diri.
“Ini Ratu kami. Dan ini resep yang saya maksud”, kata si Kupu sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan: GAJAH TERSANGKUT DI POHON, BERUANG MANDI DI LAUT
Liza menatap tulisan tersebut dan terbang keluar sejenak untuk menemukan apa maksud teka-teki itu. Lalu ia hinggap pada sebatang pohon kelapa gading yang rimbun buahnya.
Tiba-tiba mata Liza terbelalak dan “ Aha !”.
“Gajah berarti gading…ya kelapa gading!”. Lalu Liza pun ingat guci guci berisi madu tadi . “Ah, beruang berarti madu ! Bukankah beruang suka makan madu? Dan....mandi di laut berarti garam !” Bukankah jawabannya sama dengan teka-teki yang ada pada majalah anak anak tadi ? Liza pun bergegas kembali ke Istana.
“ Tolong siapkan segelas air kelapa gading ditambah madu dan garam secukupnya ! Minumkan ramuan itu kepada sang ratu. Semoga bisa menawarkan racunnya!”, perintah Liza penuh keyakinan.
Liza benar. Sang Ratu pun sembuh dan sadar kembali setelah meminum ramuan itu.Sebagai rasa terimakasihnya, Sang Ratu menghadiahi Liza sebuah cermin wasiat.Dengan cermin itu kapan saja Liza bisa berkunjung ke Negeri Kupu-Kupu
“Liza! Bangun !Bangun! Masak tidur si kursi! Ayo pindah ke kamar!”, Rizka baru saja pulang sekolah mendapati adiknya sedang tertidur di kursi sambil memegangi pianika
“Aduh! Mana cerminku? Mana cerminku? Aku mau kembali ke Negeri Kupu “, kata Liza sambil mengusap matanya.
Rizka tersenyum sambil geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah adiknya, sambildalam hati berkata; ” Bisa-bisanya tidur di kursi aja kog sambil mimpi! Dasar tukangkhayal ! “

Tutorial Design logo 3D Simple tapi keren - Adobe Ilustrator

Hallo temen temen di sini saya membawa sebuh video tutorial tentang membuat sebuah desain logo, untuk lebihlanjutnya tonton videonya